Jumat, 31 Juli 2015

Materi IPA-Fisika IX

Silahkan bagi yang ingin belajar  materi IPA-Fisika kelas IX bisa klik disini

Minggu, 26 Juli 2015

Olimpiade Penelitian 2015

Alhamdulillah di tahun 2015 SMP Negeri 15 Surakarta meraih juara ke 2 (dua) di bidang akademik dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Surakarta. Saya selaku pembimbing dalam penelitian tersebut merasa bangga sekali karena siswa SMP Negeri 15 Surakarta yang diwakili oleh Synta Angelina dan Insani Abdilla dapat meraih juara ke 2 tingkat kota Surakarta.
Penyerahan hadiah oleh Kepala Sekolah Bp Poernama Irianto, S.Pd pada upacara Senin, 11 Mei 2015 di halaman SMP N 15 Surakarta
Penyerahan medali Perak (penghargaan dari Dinas Dikpora Kota Surakarta) kepada pembimbing penelitian (aku)
Penyerahan hadiah dari SMP N 15 Ska, terima kasih bapak Poernama Irianto, S.Pd atas dukungan dan motivasinya kepada kami, sehingga kami berhasil mengharumkan nama libels.
poto bersama
Narsis bersama teman2, yunda Sri Hartini, yunda Sri Marwati dan dinda Triyana Yustikarini

Perangkat Semester 1

Silahkan klik download jika ingin melihat perangkat IPA-Fisika kelas IX semester 1.

Profil q

Nama : Hj. Siti Latifah, S.Pd,M.Pd
NIP : 19721105 199802 2 001
NUPTK : 1437750652300013
Unit Kerja : SMP Negeri 15 Surakarta
Alamat : Purwonegaran 60 Laweyan Sriwedari Surakarta (0271) 713440
Jabatan : Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Alamat Rumah : Bonangan RT 01/RW VIII Baturan Colomadu Karanganyar
No HP : 081329229682
Suami q : H. Subiatmoko, SH,MH (Advokad)
 Putra-putri q : 1. Zahra Rizki Ramadhania (sudah menunggu umi dan abi di pintu Syurga Nya Allah)
2. Muhammaad 'Afif Ramadhan (10 th) 
Prestasi tahun 2015 :
1. Juara 2 Pembimbing Olimpiade Penelitian Tingkat SMP Kota Surakarta
2. Lolos seleksi Calon Kepala Sekolah SMP Surakarta dan telah selesai mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah dari bulan Maret - Juni 2015 di LPMP Jawa Tengah.

Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran IPA-Fisika terdiri dari Kontrak Belajar, Minggu Efektif, Program Tahunan, Program Semester, Silabus dan RPP Kelas IX semester 2, bisa di download disini

Jumat, 24 Juli 2015

MENGAPLIKASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER

Untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, maka peserta didik tidak boleh dipisahkan dari lingkungannya, terutama lingkungan budayanya. Sebab, peserta didik hidup tak terpisahkan dari lingkungannya, dan bertindak dengan kaidah-kaidah budayanya. 

Ini penting agar peserta didik tidak terasing dari lingkungan budayanya sendiri atau yang lebih parah, tidak menyukai budaya sendiri. Budaya yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang dimulai dari lingkungan RT, RW, desa dan seterusnya sebagai sebuah bangsa. 

Semakin kuat akar budaya seorang peserta didik semakin kuat pula kecenderungannya untuk tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang baik. Sehingga seperti yang sering terjadi belakangan ini, peserta didik tidak akan terlibat aksi perkelahian atau tawuran, karena mereka tahu tawuran merupakan sikap yang tidak sesuai budaya ketimuran.

Pendidikan budaya dan karakter merupakan inti dari proses pendidikan. Proses tersebut idealnya berlangsung berkelanjutan, dan dapat dilakukan melalui berbagai mata pelajaran seperti Kewarganegaraan, Sejarah, Geografi, Ekonomi, sampai mata pelajaran IPA, Matematika, Agama dan lain-lain. 

Nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter diidentifikasi dari beberapa sumber. Antara lain agama, karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Karena itu kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. 

Sumber yang lain adalah Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Terkait dengan Pancasila, para peserta didik diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga masyarakat dan negara. 

Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai karakter bangsa untuk digunakan sebagai materi pendidikan budaya dan karakter bangsa. Nilai karakter bangsa tersebut antara lain mencakup nilai religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerjakeras, kreatif, mandiri, demokratis, serta memiliki rasa ingin tahu yang besar. Masih ada beberapa nilai karakter lain yang patut dikembangkan di kalangan peserta didik. 

Dalam hal nilai religius, maka para siswa perlu diajarkan untuk patuh melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, memiliki sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 

Disamping itu, para siswa juga harus dibiasakan untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya baik dalam perkataan, tindakan dan pekerjaannya. Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya juga harus dikembangkan pada diri peserta didik. 

Terhadap keberhasilan secara personal, maka para siswa juga perlu diajarkan untuk memilki sikap disiplin dan kerja keras. Disiplin yakni bersikap patuh terhadap tata tertib dan peraturan yang sudah menjadi ketetapan. Ini mengajarkan siswa untuk bersikap menghormati undang-undang, ketika mereka kelak dewasa. 

Sikap kerja keras juga perlu diajarkan pada peserta didik, karena hanya orang-orang yang mau bekerja keras yang akan menuai keberhasilannya. Sikap kerja keras selama masih belajar di sekolah, dapat ditunjukkan misalnya dengan upaya sungguh-sungguh dalam dalam mengatasi berbagai hambatanbelajar dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Peserta didik yang sudah memiliki sikap kerja keras, tidak akan berpikir untuk mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugas - tugasnya. Ini menjadi pelajaran agar kedepan ketika sudah bekerja, seseorang tidak akan menggunakan jalan pintas dan mementingkan diri sendiri. Karena itu, sejak awal peserta didik harus pula didukung dengan pola pikir yang kreatif dan sikap yang ,mandiri saat menyelesaikan tugas – tugasnya. 

Pemberian pendidikan karakter pada peserta didik tersebut, tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan semata. Melainkan juga perlu diaplikasikan dalam konteks kehidupan masyarakat sehari-hari. 

Dan menurut penulis, hal inilah yang perlu dilakukan karena proses penanaman nilai – nilai karakter tersebut apabila mendapatkan respons dan fokus positif untuk dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka hasilnya akan sangat meningkat. 

Sebagai contoh sederhana, dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu keluarga, untuk menanamkan nilai religius maka peran orang tua untuk memberikan teladan kepada putra putrinya akan sangat bermanfaat sekali. Ketika di sekolah pada mata pelajaran agama peserta didik dilatih dan diajak untuk menjalankan salat lima waktu bagi yang bergama Islam sebagai salah satu bentuk nilai karakter religius, akan bermakna, bila di lingkungan keluarga khususnya orangtua memberikan teladan yang baik dalam menjalankan ibadah tersebut. 

Untuk itu perlu kesadaran dari pihak orangtua untuk tetap berusaha menanam nilai-nilai karakter pada anak-anaknya sehingga akan menjadi suatu kebiasaaan. Sehingga, nilai – nilai karakter yang diterapkan di sekolah juga akan menjadi suatu kebiasaan siswa di rumah dan di lingkungannya. 

Mengapa perlu menjadikan pendidikan karakter ini sebagai suatu kebiasaan? Karena bila hal ini berhasil, maka anak-anak yang dididik tersebut akan benar-benar mampu mengaplikasikannya tanpa harus mendapatkan kontrol atau paksaan. Dengan kata lain, pelaksanaan nilai-nilai karakter akan dilakukan berdasarkan kesadaran diri sendiri. 
(Artikel ini sudah dimuat dalam Koran JOGLOSEMAR kolom “Pendidikan” pada hari Senin, 15 Oktober 2012)

Oleh : Siti Latifah, S.Pd,M.Pd
(Guru SMP Negeri 15 Surakarta)

Rabu, 31 Desember 2014

BINTEK PENINGKATAN KARIER PTK MELALUI MGMP IPA SMP KOTA SURAKARTA TAHUN 2014




Dalam rangka meningkatkan karier guru-guru mata pelajaran IPA SMP Kota Surakarta maka MGMP IPA yang diketuai oleh Drs Agus Siswanto (guru SMP Negeri 8 Surakarta) dengan pembina Nugroho, S.Pd,M.Pd (Kepala SMP Negeri 8 Surakarta) mengadakan Bimbingan Teknis (Bintek) Peningkatan karier PTK dengan pola 80 jam selama 16 x pertemuan. Bintek ini terlaksana berkat bantuan dana dari Direktorat P2TK Dikdas Ditjen Kemdikbud Jakarta sebesar Rp 28 juta (dua puluh delapan juta rupiah) pada tahun 2014.

Kegiatan yang dilaksanakan sebanyak 16 x pertemuan dibuka pada hari Selasa, 25 November 2014 oleh Kepala Bidang PTK Dinas Dikpora Kota Surakarta, Drs H. Sulardi, M.Pd. Kegiatan sebanyak 16 x pertemuan dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, Jumat pada pukul 13.00  17.00 WIB.
Materi pada pertemuan pertama adalah Sosialisasi Kurikulum 2013 yang disampaikan oleh Drs Nur Rochmad, M.Pd selaku Pengawas Dinas Dikpora Kota Surakarta. Pertemuan kedua sampai dengan pertemuan keenambelas diisi dengan materi penyusunan proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan pembuatan artikel ilmiah. Salah satu nara sumber pada materi penyusunan proposal PTK adalah Dr Rahayuningsih, M.Pd, guru SMK Muhammadiyah 4 Surakarta.


Sebanyak 30 peserta guru mata pelajaran IPA sekolah negeri maupun swasta se-Surakarta bersemangat mengikuti kegiatan Bintek ini dan berhasil menyusun proposal PTK serta mempresentasikannya. Harapan pengurus MGMP IPA selaku panitia dan penyelenggara semoga proposal yang telah tersusun dapat dilanjutkan pada penelitian dan penyusunan laporan. Untuk itu pengurus bersedia menfasilitasi guru-guru IPA yang ingin mengadakan seminar hasil PTK seperti yang disampaikan oleh pembina MGMP IPA SMP Kota Surakarta, Nugroho, S.Pd,M.Pd.

Bintek ditutup oleh Nugroho, S.Pd, M.Pd,selalu pembina MGMP IPA SMP Kota Surakarta pada hari Selasa,23 Desember 2014.



Penulis :
Siti Latifah, S.Pd,M.Pd
Sekretaris MGMP IPA SMP Surakarta
(Guru SMP Negeri 15 Surakarta)
HP. 081 329 229 682

Senin, 13 Januari 2014

BINTEK PENINGKATAN KARIER PTK MELALUI MGMP IPA-2 (FISIKA SMP)


Dalam rangka meningkatkan karier guru-guru mata pelajaran IPA khususnya IPA-2 (Fisika) SMP Kota Surakarta maka MGMP IPA-2 yang diketuai oleh Drs Sriyatno, M.Pd (guru SMP Negeri 20 Surakarta) dengan pembina Nugroho, S.Pd,M.Pd (Kepala SMP Negeri 8 Surakarta) mengadakan Bimbingan Teknis (Bintek) Peningkatan karier PTK dengan pola 80 jam selama 16 x pertemuan. Bintek ini terlaksana berkat bantuan dana dari Direktorat P2TK Dikdas Ditjen Kemdikbud Jakarta sebesar Rp 28 juta (dua puluh delapan juta rupiah).
Kegiatan yang dilaksanakan sebanyak 16 x pertemuan dibuka pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013 oleh Kasi PTK Dinas Dikpora Kota Surakarta, Tri Budi Santosa, S.Pd, M.M. Kegiatan sebanyak 16 x pertemuan dilaksanakan setiap hari Sabtu, pukul 08.00 – 13.15 WIB dan hari Selasa, pukul 13.00 – 17.00 WIB.
Materi pada pertemuan pertama adalah Sosialisasi Kurikulum 2013 yang disampaikan oleh Drs Supraptono, M.Pd selaku Pengawas Dinas Dikpora Kota Surakarta. Pertemuan kedua sampai dengan pertemuan keenambelas diisi dengan materi penyusunan proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan pembuatan artikel ilmiah yang dibimbing oleh Dr Sarwanto, M.Si dosen Program Pasca Sarjana Sains UNS dan Dr Muhammad Rohmadi, M.Hum dari PBS FKIP UNS.
Sebanyak 30 peserta guru mata pelajaran IPA khusunya IPA-Fisika baik sekolah negeri maupun swastta se-Surakarta bersemangat mengikuti kegiatan Bintek ini dan berhasil menyusun proposal PTK serta mempresentasikannya. Harapan pengurus MGMP IPA-2 selalu panitia dan penyelenggara semoga proposal yang telah tersusun dapat dilanjutkan pada penelitian dan penyusunan laporan. Untuk itu pengurus bersedia menfasilitasi guru-guru IPA-2 yang ingin mengadakan seminar hasil PTK seperti yang disampaikan oleh Dr Sarwanto, M.Si dan akan dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Universitas Sebelas Maret (UNS).
Bintek ditutup oleh Nugroho, S.Pd, M.Pd,selalu pembina MGMP IPA SMP Kota Surakarta pada hari Selasa, 10 Desember 2013.

Minggu, 12 Januari 2014

FISIKA

Fisika (bahasa Yunani: φυσικός (fysikós), "alamiah", dan φύσις (fýsis), "alam") adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Para fisikawan atau ahli fisika mempelajari perilaku dan sifat materi dalam bidang yang sangat beragam, mulai dari partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu kesatuan kosmos.
Beberapa sifat yang dipelajari dalam fisika merupakan sifat yang ada dalam semua sistem materi yang ada, seperti hukum kekekalan energi. Sifat semacam ini sering disebut sebagai hukum fisika. Fisika sering disebut sebagai "ilmu paling mendasar", karena setiap ilmu alam lainnya (biologi, kimia, geologi, dan lain-lain) mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum fisika. Misalnya, kimia adalah ilmu tentang molekul dan zat kimia yang dibentuknya. Sifat suatu zat kimia ditentukan oleh sifat molekul yang membentuknya, yang dapat dijelaskan oleh ilmu fisika seperti mekanika kuantum, termodinamika, dan elektromagnetika.
Fisika juga berkaitan erat dengan matematika. Teori fisika banyak dinyatakan dalam notasi matematis, dan matematika yang digunakan biasanya lebih rumit daripada matematika yang digunakan dalam bidang sains lainnya. Perbedaan antara fisika dan matematika adalah: fisika berkaitan dengan pemerian dunia material, sedangkan matematika berkaitan dengan pola-pola abstrak yang tak selalu berhubungan dengan dunia material. Namun, perbedaan ini tidak selalu tampak jelas. Ada wilayah luas penelitan yang beririsan antara fisika dan matematika, yakni fisika matematis, yang mengembangkan struktur matematis bagi teori-teori fisika.